Selasa, 31 Januari 2012

Berbeda Antara Idea dengan Kenyataan

Firman Allah yang bermaksud:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku redhai Islam itu menjadi agama bagimu”. (Al-Maidah: 3).

Inti sari dari surah Al-Maidah ayat 3  di atas, dapatlah disimpulkan di sini, dengan tegas Allah mengatakan, bahawa Islam adalah agama yang sempurna. Namun yang menimbulkan pertanyaan di hati kita, jika memang benar Islam itu adalah agama yang sempurna, mengapa kenyataan yang kita lihat, umatnya sangat jauh dari kesempurnaan?

Sebagai jawabannya, berarti telah terjadi dikotomi (pemisahan) antara ajaran Islam dengan umatnya, di mana Islam selaku ajaran yang datangnya dari Allah SWT berbicara lain, sedangkan umatnya pula bertingkah laku lain. Apa yang dilakukan sangat berlawanan, sama tidak obahnya seperti menyuruh orang pekak, di suruh ke ladang dia ke sawah, di suruh ke atas dia ke bawah.Inilah barangkali yang disindir oleh Allah dalam firman-Nya:

“Mereka itu pekak, bisu, buta dan sangat sulit untuk kembali ke jalan yang benar”. (Al-Baqarah: 18).

Pada kesempatan ini akan dikemukakan beberapa fenomena yang sedang dialami oleh umat Islam, sehingga mereka sangat jauh dari kesempurnaan sebagaimana yang diharapkan oleh agamanya sendiri.

Fenomena sentral tersebut menurut hemat penulis di antaranya adalah kesilapan kita dalam menentukan kepribadian.

Sebagaimana yang kita maklumi, dalam bertingkah laku dan berbuat, selaku umat Islam ada seorang tokoh yang harus kita jadikan panutan kita, iaitu Nabi Muhammad SAW. Agama menganjurkan kepada kita supaya mencontohi beliau, sebab beliau adalah Insanul Kami. Logikanya tokoh idola kita dalam kehidupan ini, supaya kita selamat dunia akhirat, tidak ada yang lain kecuali Muhammad SAW.

Cuma sangat disayangkan, dalam upaya mencontohi kepribadian Muhammad ini, banyak di antara umat Islam yang salah kafrah, sehingga mereka tidak melihat kepribadian Muhammad itu sebagai satu kesatuan utuh atau secara integral, melainkan memandangnya secara terpisah-pisah atau farsial. Atau dengan kata lain, tidak ubahnya seperti empat orang buta yang disuruh untuk meraba gajah. Bagi yang teraba ekornya mengatakan  bahwa gajah itu kecil sebesar tali belati, yang teraba telinganya mengatakan gajah lebar seperti daun keladi, yang teraba kakinya mengatakan gajah hanya sebesar batang pisang, sedangkan bagi yang teraba badannya, mati-matian mengatakan gajah besar seperti gunung. Masing-masng mereka mengatakan bahwa dialah yang benar. Padahal kebenaran itu adalah himpunan dari pendapat keempat orang tersebut.

Begitu jugalah halnya dengan umat Islam, ada di antara kita yang ingin mencontohi tingkah laku Muhammad cuma dari sudut kesabarannya saja, mereka sangat memperhatikan sebuah cerita yang mengisahkan tentang kesabaran Muhammad tersebut.
Pernah pada suatu hari, Muhammad lalu di halaman rumah orang Yahudi, tiba-tiba kepala dan pakaiannya telah penuh dengan najis, karena disiram oleh si Yahudi tersebut. Walaupun demikian Muhammad tetap sabar, bahkan keesokan harinya dia masih lalu lagi di halaman rumah Yahudi tadi, dan nasib yang diterimanya pada hari ini masih tetap sama. Namun dia masih juga  sabar. Pada hari yang ketiga ternyata si Yahudi tadi sakit, mendengar berita itu, Muhammad langsung pergi melihatnya. Pada saat itulah membuatkan si Yahudi tadi berfikir, sungguh mulia hati Rasulullah SAW. Orang yang pernah dilemparinya dengan najis, adalah orang yang pertama sekali datang ke rumahnya berta’ziah, sedangkan jiran sebelah rumahnya hanya acuh-acuh saja. Tertarik dengan kepribadian Rasulullah SAW itu, secara spontan ia menyatakan keislamannya.

Cerita yang demikian itu diperkuat pula dengan cerita yang lain, ketika Rasulullah SAW berhijrah ke Thaib, patah giginya dan berlumuran darah di mukanya karena dilempari dengan batu, sehingga malaikat Jibril turun menemui beliau seraya berkata: “Wahai Muhammad, bagaimana pendapatmu jika aku hancurkan saja penduduk Thaib ini?” Namun apa yang dikatakan oleh Muhammad: “Jangan wahai Jibril, sesungguhnya mereka itu tidak tahu bahwa aku ini adalah Nabinya. Aku berharap, kalau mereka tidak mau memeluk Islam, mudah-mudahan anak cucu mereka nanti yang akan menyahuti seruan ini”.

Demikianlah kesabaran Muhammad, yang akhirnya kita tiru. Cuma sangat disayangkan, yang kita tiru hanya kesabarannya saja, dan peniruan kita terhadap kesabarannya itu sudah sangat berlebihan, sehingga agama atau aqidah kita sudah diinjak-injak orang, kita masih tenang-tenang saja dalam keadaan pasrah. Kita akur dengan ketentuan yang melarang menyiarkan agama kepada orang yang sudah beragama. Akan tetapi masih ada pihak lain yang bermain curang. Mereka datang ke rumah-rumah orang Islam dengan menjanjikan ini dan itu, membawa Indomi, beras dan sebagainya, sehingga ada di antara kita yang keluar dari Islam masuk ke dalam agama mereka. Terhadap hal  seperti ini, terlalu dayus rasanya jika kita masih menerapkan sifat kesabaran yang secara berlebihan, kita harus bangkit mempertahankan akidah kita.

Kita terlupa, bahwa kesabaran Muhammad pada tempatnya. Dikisahkan pula dalam sejarah, ketika Rasulullah SAW sebagai pimpinan sebuah negara Islam dengan ibu kotanya Madinah. Beliau pernah mengikat sebuah perjanjian dengan orang-orang Yahudi yang menetap selaku penduduk Madinah pada saat itu. Perjanjian tersebut berisikan tentang toleransi kehidupan beragama, serta mengharapkan supaya orang-orang Yahudi itu mau menganggap kota Madinah sebagai kota mereka sendiri, hidup saling berdampingan dengan umat Islam, jika ada musuh yang datang menyerang, mari bersama-sama mempertahankan kota tersebut.

Akan tetapi dasar si Yahudi umat munafik, umat yang tidak tahu diuntung, mereka khianati perjanjian itu, mereka melakukan berbagai macam kerusakan, membunuh, merampok dan sebagainya. Akhirnya apa yang terjadi?. Berhadapan dengan hal yang demikian ini, bangkitlah kemarahan Rasulullah SAW, bahkan Ali Syariati di dalam bukunya yang berjudul sosiologi Islam berpendapat; jika Nabi Musa AS. marah, akan tembus baju tujuh lapis oleh bulu romanya, akan tetapi jika Muhammad SAW marah, maka sikapnya akan lebih dahsyat dari Nabi Musa, terbukti kata beliau, dalam peperangan, Muhammad bisa melompat dari kuda yang satu ke kekuda yang lain sedang dalam keadaan berlari kencang, dan tidak ada satu orang musuhpun yang bisa lepas dari mata pedangnya.

Terbukti pula dari kisah Yahudi tadi, Rasulullah SAW memerintahkan kepada para sahabat supaya menangkap laki-laki Yahudi yang berbuat makar tersebut, setelah ditangkap, jumlah mereka  lebih kurang 70 orang. Kesemuanya mereka itu dihadapkan kepada Rasulullah SAW. Pada saat itu juga Rasulullah memerintahkan supaya digali lubang, sebesar-besarnya dan sedalam-dalamnya. Selepas itu dengan tangannya sendiri, ia memasukkan si Yahudi tadi. Meraung, menangis, minta tolong, namun prinsip Muhammad pada waktu itu; tidak ada maaf bagimu! Selepas itu, ia memerintahkan supaya si Yahudi yang telah terhimpun dalam satu lubang itu ditimbun dengan tanah.

Inilah dia kepribadian Muhammad, ada masanya dia menjadi orang yang sabar, sesuai dengan situasi dan kondisi, dan ada masanya pula dia bangkit dan marah, andaikata martabat dan agamanya telah dipandang orang dengan sebelah mata. Selagi kita umat Islam tidak meniru secara utuh kepribadian ini, selama itulah kita akan menjadi umat yang dipandang enteng oleh umat yang lain.


Kekeliruan umat Islam selanjutnya, salah kafrah dalam menilai masalah ketaqwaan. Untuk menjadi orang yang taqwa, kita dianjurkan supaya meniru Muhammad dalam melaksanakan ibadah. Ternyata dalam peniruan ini juga salah. Kita hanya berpegang kepada riwayat yang mengatakan bahawa Muhammad adalah orang yang taat beribadah kepada Allah, di malam hari ia menangis terisak-isak melaksanakan qiyamullail, bahkan kedua kakinya menjadi bengkak karena rukuk dan sujud kepada Allah. Melihat yang demikian itu, seakan-akan dunia ini tidak ada arti bagi dirinya.

Justru itu masih ada di antara kita yang meniru hal ini, beribadah secara terus menerus, memencilkan diri, duduk saja di masjid atau di surau-surau guna berzikir kepada Allah, bahkan untuk makannya saja diantarkan oleh orang lain.

Kita terlupa, bahwa masa yang dipergunakan oleh Muhammad untuk itu tidaklah 100%, padahal pada waktu siang hari, beliau sibuk di pasar berjualan, dan terlihat pada waktu itu seakan-akan beliau ingin hidup di dunia ini untuk selama-lamanya. Bahkan beliau pernah menjadi seorang pedagang yang berhasil, sehingga ketika akan menikahi Siti Khadijah, sebagai hantarannya saja sebanyak 100 ekor unta, jika dinilai dengan uang sekarang, harganya mencapai miliayaran rupiah.
Logikanya  kita umat Islam harus menjadi orang yang kaya, tetapi taqwa, karena miskinlah sampai saat sekarang kita masih tetap dijajah. Bahkan penjajahan sekarang telah berubah, dari penjajahan yang bersifat fisik kepada penjajahan dalam bidang ekonomi.

Mudah-mudahan hal yang demikian ini menjadi bahan renungan bagi kita bersama, serta kita berupaya untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara integral (menyeluruh) dan bukan secara farsial (hanya meninjau dari satu sudut). Wallahua’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar