Jumat, 27 Januari 2012

GAMBARAN WAJAH ISLAM MELAYU NUSANTARA

Dalam perjalanan kehidupan ini, masing-masing kita pernah mengimpikan suatu barang yang sangat berharga, sedikit demi sedikit uang yang kita kumpulkan, bahkan ada diantara kita yang bercucuran keringat karena dibakar matahari demi untuk mewujudkan impian dihati. Selanjutnya mungkin apa yang kita impikan menjadi kenyataan, barang yang sangat berharga menurut ukuran kita sudah kita miliki, tidak tanggung-tanggung penghargaan dan rasa sayang kita terhadapnya.
Secara kebetulan pula pada waktu bersamaan, seorang sahabat lama yang konon kabarnya telah berhasil di negeri orang, mengirimkan sebuah bingkisan atau hadiah kepada kita, ketika dibuka, ternyata isinya persis sama dengan barang yang sudah kita miliki itu, baik harganya, bentuknya, warnanya dan dan sebagainya. Kini timbul pertanyaan, manakah yang lebih kita hargai atau kita cintai di antara keduanya?
Jawabannya sudah tentu, barang yang kita dapatkan secara susah payah, lebih kita hargai dan lebih kita sayangi ketimbang hadiah, walaupun sebagaimana yang disebutkan di atas tadi baik harganya, bentuknya, warnanya dan sebagainya sama.
Begitu jugalah halnya dengan Islam, selaku agama yang kita anut pada saat ini, boleh dikatakan sangat terlalu mudah kita mendapatkannya, dari semenjak awalnya  tidak ada sedikitpun usaha dari kita, karena kita dilahirkan dari rahim seorang ibu, yang ibu kita sendiri itupun Islam nya dari kedua orang tua.

Justru itu wajarlah kiranya, jika sangat kurang penghargaan kita terhadap agama yang mulia ini, Islam yang kita lihat baru berada pada daftar formalitas, belum menjelma dalam bentuk aktivitas yang berkualitas.
Keadaan yang demikian ini diperparah lagi dengan tiga faktor penting, yang benar benar membuatkan umat Islam menjadi terpuruk, bahkan tidak dapat mengharapkan terlalu banyak darinya. Bukan putus asa, akan tetapi terlalu tipis untuk Islam dapat hadir sebagai agama yang Rahmatal Lil Alamin, karena hanya mengharapkan jumlahnya yang tidak ubahnya seperti buih dilautan, akan tetapi isinya hanyalah kosong.
Disamping Islam turunan, setidaknya ada tiga faktor lain yang menyebabkan kemunduran dalam memahami Islam itu sendiri.
 Pertama: Islam yang dibawa atau disiarkan oleh ulama-ulama dahulu ke Nusantara pada abad ke 13 bukanlah Islam zaman kejayaan, akan tetapi zaman kemunduran. Hal ini ditandai dengan kejatuhan pusat kebudayaan Islam di kota Baghdad di tangan tentara Mongol Tartar. Rasa putus asa dan kepasrahan mempengaruhi jiwa ulama yang membawa Islam datang ke Nusantara sehingga nuansa Islam yang disampaikan adalah Islam yang fasif bukan Islam yang agresif.
Islam tipe ini menganggap apa yang terjadi pada dirinya, apakah itu sebuah kebaikan maupun keburukan telah ditentukan oleh Allah SWT dan harus menerimanya dengan pasrah. ***Sehingga Allah dijadikan tempat tumpuan kesalahan. Kalau ada pertanyaan;kenapa miskin? Ia akan menjawab sudah takdir Allah. Kenapa bodoh? Sudah takdir Allah. Kenapa pemalas? Sudah takdir Allah. Yang paling parah, produk dari ajaran Islam seperti ini, akhirnya melahirkan manusia yang serakah, dia tidak lagi pandai membedakan mana yang  hak dan mana yang batil, karena usaha tersebut baginya sangat berat, hanya dapat dilakukan oleh Islam yang agresif. Kalau ada rezeki di depan mata, tidak peduli halal ataupun haram, terus dihantam, karena dia menganggap bahwa ini adalah rezeki yang telah ditakdirkan oleh Allah SWT untuk dirinya.
Kedua: Sebelum agama Islam datang, penduduk Nusantara umumnya atau melayu khususnya telah menganut berbagai macam kepercayaan,seperti animisme, dinamisme, budhisme dan terakhir Hinduisme dengan kekuatan politiknya berhasil menanamkan unsur-unsur kebudayaannya. Ketika datangnya Islam, maka berbenturanlah antara Islam sebagai agama dan kebudayaan baru dengan kepercayaan dan kebudayaan lama yang telah berurat berakar dalam kehidupan masyarakat. Menghadapi hal ini para ulama penyiar agama Islam dahulunya, lebih mengutamakan mengambil sikap toleransi dan beradaptasi dengan kebudayaan yang sudah ada. Manifestasi dari semuanya itu, akhirnya melahirkan Islam dengan wajah tersendiri, Islam yang sudah bercampur aduk dengan kebudayaan lama, seperti Islam yang masih tetap saja menyembah kuburan para wali dan sebagainya. Islam yang mempercayai kekuatan roh yang akan dapat mempengaruhi nasib seseorang. Islam yang menghandalkan kekuatan dukun atau kekuatan sihir untuk mencapai tujuan. Dalam kenyataan hidup di tengah masyarakat yang kita saksikan, kehilangan barang ,mereka kedukun, ingin naik pangkat mereka ke dukun, untuk mempertahankan jabatan juga kedukun.Sehingga menghafal mantera-mantera lebih diyakini, jika dibandingkan dengan membaca atau memahami Al-Quran selaku wahyu Ilahi. Yusuf Qardawi pernah berkata: “ kita sering menghiasi dinding-dinding rumah kita dengan Al-Quran, akan tetapi kita tidak mau menghiasi kepribadian kita dengan kepribadian Al-Quran, Kita sering membacakan Al-Quran untuk orang yang sudah mati, akan tetapi tidak mau menjadikannya sebagai aturan atau hukum bagi kita yang masih hidup”.

Ketiga: Ini Khusus untuk  orang melayu.Tanpa disadari akan tetapi ianya sudah meresap di dalam hati, dalam diam-diam tetapi pasti telah  membentuk karakteristik  tersendiri. Melayu memang identik dengan Islam, akan tetapi Islam yang dianut oleh orang melayu adalah Islam sebagaimana yang diuraikan di atas tadi. Sudahlah jatuh tertimpa tangga, pemahaman Islam yang sudah terpuruk diperparah lagi dengan senandung-senandung lagu melayu yang condong kepada kemunduran bukan kemajuan. Sebagai contoh: “kain yang buruk berikan kami, buat penyapu si air mata”. Sudahlah hidup susah bermandikan air mata, bagi yang mampu tak mau pula membantu, karena malayu tidak membela suku. Akhirnya kain yang kotor dan buruk disapukan kemata, maka terinfeksilah mata, bahkan tidak mustahil akan menjadi buta. Sebagai jalan pemecahannya, nampaknya sudah tiba masanya pemahaman terhadap Islam harus diperbaharui dan difahami secara integral atau menyeluruh, bukan secara farsial atau pemahaman Islam yang separuh-separuh. Di samping itu perlu penerapan nilai-nilai Islam dalam setiap aspek kehidupan, khususnya di dalam hal ini sangat bergantung kepada pihak penguasa, ingin ke mana akan dibawa rakyatnya. Sebab sebagaimana ungkapan Ibn Khaldun:” Segenggam kekuasaan lebih menentukan ketimbang sekeranjang  kebenaran”. Justru itu pergunakanlah kekuasaan yang ada untuk membela kebenaran. Sudah tentu kebenaran yang dimaksudkan di sini adalah kebenaran yang disuguhkan oleh  Islam. Wallahua’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar